“Dam, kamu yakin? Enggak naik bis aja, apa taksi gitu? Entar
kalau ketahuan Pak Ustad gimana?”
“Alah udahlah biarin aja, enggak bakal ketahuan wes. Kalo
naik bis ntar nyampe nya lama, kalo naik taksi ntar kemahalan, aku lagi gak
punya duwit nih.”
Jumat, 21 Februari 2014. Adam dan Haidar, dua anak
bersahabat yang spintar dan sangat akrab. Mereka berdua sama-sama tinggal di
sebuah asrama di pondok pesantren yang terletak di pinggiran kota. Sudah hampir
tiga tahun mereka bersama-sama bahu-membahu dalam rangka menimba ilmu untuk
kesuksesan mereka.
Suatu saat mereka berencana untuk mengikuti lomba try
out Ujian Nasional yang diadakan pada hari Minggu 23 Februari 2014 di SMA Maju
Jaya. Letaknya sangat jauh. Tidak mungkin untuk menuju ke sana dengan berjalan
kaki atau bersepeda. Naik motor, itu juga bukan solusi. Di pondok mereka telah diterapkan
aturan tentang larangan membawa motor. Apabila ketahuan mengendarai motor di
lingkungan pondok maka motor tersebut harus diserahkan kepada pihak pondok, dan
akan dikembalikan lagi setelah lulus dari pondok.
“Ntar kalo ketahuan Pak Ustad gimana dam? Kalo trus
disita nanti gimana?” tanya Haidar ragu.
“Udah sih nggak papa. Lagian siapa juga yang mau liet
kita kalo naik motor. Kan pakai helm sama jaket. Jadi nggak mungkin ketahuan
lah.”
“Tapi kalo ada temen kita yang liet gitu gimana, Dam?”
“Alah, masak sih sama temen sendiri mau bilangin ke Pak
Ustad. Gak bakal kok. Aku yang jamin kalo masalah temen sendiri.”
“Mmmm, kamu yakin?”
“Udah yakin aja Dar, tinggal pinjem motor sama bapak
angkringan depan asrama, nanti bilang kalo kita mau daftar buat lomba try out,
nanti masalah bensin kita isi sampai full, trus helmnya kita minjem sama yang
punya Laundry seberang jalan itu aja, biar cepet sampainya, sekalian nanti bisa
jalan-jalan hehehe.”
“Yaudah deh aku nurut, tapi kamu yang bilang ya, Dam.”
“Okelah. Aku yang bilang kamu yang pinjam helm, sekalian
nanti mbalikinnya. Hati-hati tapi kalo pas minjem helm.”
“Siap.”
Angkringan Pak Heru. Sesuai
dengan namanya, Pak Heru merupakan pemilik angkringan yang sudah hampir 3 tahun
berdiri. Para santri pondok pun sudah begitu akrab dengannya, karena letaknya
yang sangat dekat sehingga bisa berkunjung setiap saat. Tak jarang dari mereka
ada yang secara diam-diam menitipkan HP maupun meminjam motornya untuk sekedar
berjalan-jalan maupun untuk keperluan penting. Tentunya itu semua berada diluar
pengetahuan Pak Ustad.
“Nyuwun sewu, Pak
Heru! Motornya dipakai enggak? Kalau enggak bisa saya pinjam nggak?”
“Oh nganggur kok, Le.
Mau ke mana to?”
“Mau buat daftar lomba try out pak di SMA Maju Jaya.”
“Waa jauh banget itu le, ini pinjem motor bapak aja
nggak papa.”
“Waah, matur suwun nggih, Pak!”
“Iya sama-sama, Le. Hati-hati ya, jangan lupa bensinnya
diisinya pakai pertamax.”
“Siap, Pak.”
Setelah semua perlengkapan sudah siap, Adam dan Haidar
berangkat. Mereka berangkat dari Angkringan Pak Heru tepat pukul 10.30 menuju
SMA Maju Jaya.
. . .
“Adam, Haidar, kalian
dipanggil sama Pak Ustad tuh, di ruangannya.”
“Ada apa sih? Kok aku sama
Haidar yang dipanggil?
“Gatau tuh,suruh cepet
katanya.”
Haidar dan Adam segera masuk
ke ruangan Pak Ustad. Dengan sedikit kebingungan, serta diliputi rasa gelisah,
mereka masuk ke dalam ruangan.
“Tok.. Tok.. Tok..
Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam. Dari mana
aja kalian?”
“Mmm.. ta.. tadi kami habis
keluar sebentar pak.”
“Keluar kemana? Jawab!” Bentak
Pak Ustad. “Kalian pergi naik motor kan? motornya siapa? Kenapa kalian nggak
izin?”
“Ka.. Kami nggak naik motor
kok, Pak. Lagian saya sama Haidar juga cuman jalan-jalan ke warung makan.”
“Plak.. Plak..” Tampar Pak
Ustad. “Kalian pembohong!” Bentak Pak Ustad dengan lantang. “Tadi saya melihat
dengan jelas kalian parkir motor di depan asrama, kalian langsung nyeberang
sambil ngumpet-ngumpet bawa helm. Kalian kira saya nggak liat?” “Sekarang saya
tanya, itu motor siapa?”
“A.. Anu , Pak. Motornya Pak
Heru. Kami tadi pinjam motor buat daftar lomba try out di SMA Maju Jaya. Kan
jaraknya jauh, jadinya kami pinjem motor Pak Heru, biar enggak lama jadinya
nanti nggak.. ”
“Kamu tau aturan pondok
enggak Dar? Tidak boleh mengendarai motor di lingkungan pondok! Motor siapapun
itu!” Memotong.
“Baik, sekarang Pak Ustad
beri waktu 10 menit kalian pergi ke wartel, kalian ceritakan apa yang
sebenarnya terjadi kepada orang tua kalian, kemudian suruh orang tua kalian
menelpon saya. Lalu, Pak Ustad beri waktu 3 hari untuk menyerahkan sebuah motor
ke sini, bersama orang tua kalian. Terserah, mau punyamu apa punyamu yang
penting itu sebuah motor, kalian bicarakan dengan orangtua kalian. Kalau dalam
3 hari ini belum diserahkan, terpaksanya Pak Ustad akan mengambil motor milik
Pak Heru. Mengerti?”
“Mengerti, Tad.”
“Baik, segera!”
“A.. Assalamualaikum, Tad.”
“Waalaikumsalam.”
...
Mereka Berdua bersama-sama
pergi ke wartel.
“ahh.. Nyesel aku, Dar.”
“Sama Dam, tapi ya mau
gimana lagi?”
“Ck.. Ahh.. Aku mau bilang
gimana ke orang tuaku nih kalau udah begini. Motorku disita lagi.”
“Udahlah nggak apa-apa, kita
cerita sejujurnya aja ke orang tua kita. Insyaallah mereka paham kok, Dam. Nggak
bakal kok kalau mereka marah berlebihan. Mereka masih sayang kita kok.” “Mmm... iya juga sih.”
“Yang penting sekarang
masalah ini kita cari solusinya. Udah lakukan aja konsekuensinya, kan kita yang
salah, pastilah ada akibatnya.”
“Iya, tapi aku bingung
e,Dar.”
“Halah Dam, Dam, kamu kan
cowok. Ngapain dibuat bingung. Santai aja. Jadiin pembelajaran buat kedepannya
biar nggak terulang lagi. Udah sekarang kamu kabari dulu orang tuamu sna, aku
juga mau bilang ke orang tuaku.”
“Mmm.. untuk motornya gimana,
Dar?”
“Aduh.. Oiyya. Aku masih ada
motor nganggur di rumahku. Mending pakai motorku aja. Lagian sebentar lagi kita
kan mau lulus, ntar kan dibalikin lagi.”
“Asik, makasih ya, Dar.”
“Iya iyaa, ahh.”
Akhirnya kasus Adam dan
Haidar diproses melibatkan kedua orang tua mereka dan Pak Heru. Dengan berat
hati, Haidar merelakan motornya diserahkan kepada pihak pondok hingga lulus.
Mereka berduamungkin menyesal terhadap keputusan mereka untuk meminjam motor. Namun
mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur. Sesuatu yang telah terjadi tidak
dapat diulang kembali. Mereka berdua menerima konsekuensi itu dan berjanji agar
kesalahan ini dapat menjadikannya lebih baik lagi untuk kedepannya. Kesalahan
untuk Kemajuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar