Pages

Selasa, 15 September 2015

KESALAHAN UNTUK KEMAJUAN

“Dam, kamu yakin? Enggak naik bis aja, apa taksi gitu? Entar kalau ketahuan Pak Ustad gimana?”
“Alah udahlah biarin aja, enggak bakal ketahuan wes. Kalo naik bis ntar nyampe nya lama, kalo naik taksi ntar kemahalan, aku lagi gak punya duwit nih.”
Jumat, 21 Februari 2014. Adam dan Haidar, dua anak bersahabat yang spintar dan sangat akrab. Mereka berdua sama-sama tinggal di sebuah asrama di pondok pesantren yang terletak di pinggiran kota. Sudah hampir tiga tahun mereka bersama-sama bahu-membahu dalam rangka menimba ilmu untuk kesuksesan mereka.
Suatu saat mereka berencana untuk mengikuti lomba try out Ujian Nasional yang diadakan pada hari Minggu 23 Februari 2014 di SMA Maju Jaya. Letaknya sangat jauh. Tidak mungkin untuk menuju ke sana dengan berjalan kaki atau bersepeda. Naik motor, itu juga bukan solusi. Di pondok mereka telah diterapkan aturan tentang larangan membawa motor. Apabila ketahuan mengendarai motor di lingkungan pondok maka motor tersebut harus diserahkan kepada pihak pondok, dan akan dikembalikan lagi setelah lulus dari pondok.
“Ntar kalo ketahuan Pak Ustad gimana dam? Kalo trus disita nanti gimana?” tanya Haidar ragu.
“Udah sih nggak papa. Lagian siapa juga yang mau liet kita kalo naik motor. Kan pakai helm sama jaket. Jadi nggak mungkin ketahuan lah.”
“Tapi kalo ada temen kita yang liet gitu gimana, Dam?”
“Alah, masak sih sama temen sendiri mau bilangin ke Pak Ustad. Gak bakal kok. Aku yang jamin kalo masalah temen sendiri.”
“Mmmm, kamu yakin?”
“Udah yakin aja Dar, tinggal pinjem motor sama bapak angkringan depan asrama, nanti bilang kalo kita mau daftar buat lomba try out, nanti masalah bensin kita isi sampai full, trus helmnya kita minjem sama yang punya Laundry seberang jalan itu aja, biar cepet sampainya, sekalian nanti bisa jalan-jalan hehehe.”
“Yaudah deh aku nurut, tapi kamu yang bilang ya, Dam.”
“Okelah. Aku yang bilang kamu yang pinjam helm, sekalian nanti mbalikinnya. Hati-hati tapi kalo pas minjem helm.”
“Siap.”
                Angkringan Pak Heru. Sesuai dengan namanya, Pak Heru merupakan pemilik angkringan yang sudah hampir 3 tahun berdiri. Para santri pondok pun sudah begitu akrab dengannya, karena letaknya yang sangat dekat sehingga bisa berkunjung setiap saat. Tak jarang dari mereka ada yang secara diam-diam menitipkan HP maupun meminjam motornya untuk sekedar berjalan-jalan maupun untuk keperluan penting. Tentunya itu semua berada diluar pengetahuan Pak Ustad.
                “Nyuwun sewu, Pak Heru! Motornya dipakai enggak? Kalau enggak bisa saya pinjam nggak?”
                “Oh nganggur kok, Le. Mau ke mana to?”
“Mau buat daftar lomba try out pak di SMA Maju Jaya.”
“Waa jauh banget itu le, ini pinjem motor bapak aja nggak papa.”
“Waah, matur suwun nggih, Pak!”
“Iya sama-sama, Le. Hati-hati ya, jangan lupa bensinnya diisinya pakai pertamax.”
“Siap, Pak.”
Setelah semua perlengkapan sudah siap, Adam dan Haidar berangkat. Mereka berangkat dari Angkringan Pak Heru tepat pukul 10.30 menuju SMA Maju Jaya.
. . .
“Adam, Haidar, kalian dipanggil sama Pak Ustad tuh, di ruangannya.”
“Ada apa sih? Kok aku sama Haidar yang dipanggil?
“Gatau tuh,suruh cepet katanya.”
Haidar dan Adam segera masuk ke ruangan Pak Ustad. Dengan sedikit kebingungan, serta diliputi rasa gelisah, mereka masuk ke dalam ruangan.
“Tok.. Tok.. Tok.. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam. Dari mana aja kalian?”
“Mmm.. ta.. tadi kami habis keluar sebentar pak.”
“Keluar kemana? Jawab!” Bentak Pak Ustad. “Kalian pergi naik motor kan? motornya siapa? Kenapa kalian nggak izin?”
“Ka.. Kami nggak naik motor kok, Pak. Lagian saya sama Haidar juga cuman jalan-jalan ke warung makan.”
“Plak.. Plak..” Tampar Pak Ustad. “Kalian pembohong!” Bentak Pak Ustad dengan lantang. “Tadi saya melihat dengan jelas kalian parkir motor di depan asrama, kalian langsung nyeberang sambil ngumpet-ngumpet bawa helm. Kalian kira saya nggak liat?” “Sekarang saya tanya, itu motor siapa?”
“A.. Anu , Pak. Motornya Pak Heru. Kami tadi pinjam motor buat daftar lomba try out di SMA Maju Jaya. Kan jaraknya jauh, jadinya kami pinjem motor Pak Heru, biar enggak lama jadinya nanti nggak.. ”
“Kamu tau aturan pondok enggak Dar? Tidak boleh mengendarai motor di lingkungan pondok! Motor siapapun itu!” Memotong.
“Baik, sekarang Pak Ustad beri waktu 10 menit kalian pergi ke wartel, kalian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua kalian, kemudian suruh orang tua kalian menelpon saya. Lalu, Pak Ustad beri waktu 3 hari untuk menyerahkan sebuah motor ke sini, bersama orang tua kalian. Terserah, mau punyamu apa punyamu yang penting itu sebuah motor, kalian bicarakan dengan orangtua kalian. Kalau dalam 3 hari ini belum diserahkan, terpaksanya Pak Ustad akan mengambil motor milik Pak Heru. Mengerti?”
“Mengerti, Tad.”
“Baik, segera!”
“A.. Assalamualaikum, Tad.”
“Waalaikumsalam.”
...
Mereka Berdua bersama-sama pergi ke wartel.
“ahh.. Nyesel aku, Dar.”
“Sama Dam, tapi ya mau gimana lagi?”
“Ck.. Ahh.. Aku mau bilang gimana ke orang tuaku nih kalau udah begini. Motorku disita lagi.”
“Udahlah nggak apa-apa, kita cerita sejujurnya aja ke orang tua kita. Insyaallah mereka paham kok, Dam. Nggak bakal kok kalau mereka marah berlebihan. Mereka masih sayang kita kok.”         “Mmm... iya juga sih.”
“Yang penting sekarang masalah ini kita cari solusinya. Udah lakukan aja konsekuensinya, kan kita yang salah, pastilah ada akibatnya.”
“Iya, tapi aku bingung e,Dar.”
“Halah Dam, Dam, kamu kan cowok. Ngapain dibuat bingung. Santai aja. Jadiin pembelajaran buat kedepannya biar nggak terulang lagi. Udah sekarang kamu kabari dulu orang tuamu sna, aku juga mau bilang ke orang tuaku.”
“Mmm.. untuk motornya gimana, Dar?”
“Aduh.. Oiyya. Aku masih ada motor nganggur di rumahku. Mending pakai motorku aja. Lagian sebentar lagi kita kan mau lulus, ntar kan dibalikin lagi.”
“Asik, makasih ya, Dar.”
“Iya iyaa, ahh.”
Akhirnya kasus Adam dan Haidar diproses melibatkan kedua orang tua mereka dan Pak Heru. Dengan berat hati, Haidar merelakan motornya diserahkan kepada pihak pondok hingga lulus. Mereka berduamungkin menyesal terhadap keputusan mereka untuk meminjam motor. Namun mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur. Sesuatu yang telah terjadi tidak dapat diulang kembali. Mereka berdua menerima konsekuensi itu dan berjanji agar kesalahan ini dapat menjadikannya lebih baik lagi untuk kedepannya. Kesalahan untuk Kemajuan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar